DASAR-DASAR ESENSI TAUHID DAN SYIRIK

A. Tauhid
Perkataan tauhid berasal dari bahasa Arab, yakni masdar dari kata wahhada, yuwahhidu. Secara etimologis, tauhid berarti keesaan. Maksudnya, keyakinan bahwa Allah SWT. Adalah esa; Tunggal; Satu. didasarkan pada dalil-dalil naqli, al-Qur’an dan Hadits.
Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku. (Qs. Al-Mukminun: 52)
Menurut Ibn Katsir dalam Tafsir Ibn Katsir, yang dimaksud dengan agama kamu semua agama yang satu adalah bahwa agama dan jalan semua nabi mulai dari nabi Adam sampai nabi Muhammad adalah satu, yaitu mengajak beribadah hanya kepada Allah dan tidak menyekutukannya.
Berdasarkan ayat di atas, maka kita diperintahkan untuk beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Akan tetapi, siapa sebenarnya Tuhan, siapa nama Tuhan yang wajib disembah, dan bagaimana cara menyembah Tuhan?
Siapa nama Tuhan yang wajib disembah?
Secara tegas Tuhan Yang Maha Esa itu sendiri yang menamai dirinya Allah. Hal ini dapat diketahui di dalam surat Thaha ayat 14:
Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.
Juga dalam al-Qur’an yang bertanya: Hal Ta’lamuuna Samiyyan ? (Qs. Maryam: 65)
ayat ini bermakna ”Apakah engkau mengetahui ada sesuatu yang bernama seperti nama ini? Atau apakah engkau mengetahui sesuatu yang berhak memperoleh keagungan dan kesempurnaan sebagaimana pemilik nama itu (Allah)? Atau bermakna Apakah engkau mengetahui ada nama yang lebih agung dari nama ini atau Apakah kamu mengetahui ada sesuatu yang sama dengan Dia (yang patut disembah)”
Pertanyaan-pertanyaan yang mengandung makna sanggahan ini kesemuanya benar, karena hanya Tuhan Yang Maha Esa yang wajib wujud-Nya itu yang berhak menyandang nama tersebut, sedangkan selain-Nya tidak ada dan bahkan tidak boleh. Hanya Dia yang berhak memperoleh keagungan dan kesempurnaan mutlak, sebagaimana tidak ada nama yang lebih agung dari nama-Nya itu.
Menurut ahli tafsir, kata Allah berasal dari kata (illah) Artinya yang “disembah” menegaskan bahwa illah adalah segala sesuatu yang disembah baik penyembahan itu tidak dibenarkan oleh akidah Islam, seperti menyembah bintang, matahari, berhala, dll. Karena kata tersebut sudah ada sejak Islam belum datang, sehingga jangan heran jika ada umat selain Islam yang menyebut tuhan mereka dengan nama illah jamak dari kata illah adalah alihah yang artinya Tuhan-Tuhan.
Kata Allah mempunyai kekhususan yang tidak dimiliki oleh kata lain; ia adalah kata yang sempurna huruf-huruf dan maknanya, serta memiliki kekhususan berkaitan dengan rahasianya, sehingga para ulama menamai dengan ism a’dham (Nama Allah yang paling mulia).
Dari segi lafadz, terlihat keistimewaannya ketika dihapus huruf-hurufnya satu persatu. Coba bacalah kata Allah dengan menghapus huruf awalnya, niscaya akan berbunyi lillah dalam arti milik/bagi Allah. Kemudian coba hapus huruf awal dari lillah akan terbaca lahu dalam arti bagi-Nya. Lalu coba hapus lagi huruf awal dari lahu akan terbaca Hu yang berarti Dia (menunjuk Allah) dan bila inipun dipersingkat akan dapat terdengar kata Aah yang sepintas atau pada lahirnya mengandung makna keluhan, tetapi pada hakikatnya adalah seruan permohonan kepada Allah. Karena itu pulalah sementara ulama berkata bahwa “kata Allah terucapkan oleh manusia sengaja atau tidak sengaja, suka atau tidak.       Itulah salah satu bukti adanya Fitrah dalam diri manusia. Inilah yang ditegaskan bahwa sikap orang-orang musyrik adalah “Apabila mereka kamu bertanya kepada mereka siapa yang menciptakan langit dan bumi, pastilah mereka berkata Allah” (Qs. Az-Zumar: 38)
Kemudian kita beralih tentang siapa sebenarnya Allah itu? Dalam surat al-Ikhlas dijelaskan:
Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”.
(Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa) ini berarti bahwa Allah adalah satu, tunggal dalam kualitas dan tunggal dalam kuantitas sebagaimana dalam surat al-An’am yaitu Qul Innama Ilahun Waahid (katakanlah sesungguhnya Tuhan itu Satu.).
(Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu). Ini menegaskan bahwa setiap yang dipertuhan pasti disembah dan kepadanya harapan dan permohonan. Semua aspek akan tertuju dan bergantung kepada Allah. Tidak ada satupun yang berdiri sendiri. ? (Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan).
Ini sebagai penegas dari surat an-Nisa’ yang artinya:
Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara.(an-Nisa’: 171)
Juga dalam surat al-Maidah yang artinya:
“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.(al-Maidah:73)”
Ayat di atas, menegaskan dan membantah perkataan bahwa menurut Yahudi bahwa Uzair adalah anak Allah dan orang Nashrani yang mengatakan Isa adalah Tuhan. Di samping itu, konsep Tri Nitas itu juga tidak benar. Karena Allah adalah satu, bukan anak dari tuhan, atau bapak dari tuhan. Melainkan Dia adalah Tunggal.
“Dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, `Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan `Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) `Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah `Isa.” Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat `Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”(QS. An-Nisa>’: 157-158)
Selanjutnya adalah berkenaan dengan kematian dan penyaliban isa bin Maryam, perlu kita lihat surat 4:157. di mana terdapat pengertian:
Pertama, bahwa sebenarnya yang terbunuh dan disalib itu bukanlah Isa, tetapi ada seseorang yang diserupakan oleh Allah yang mana wajahnya. Orang itu dalam beberapa literature disebutkan bahwa dia bernama Judas atau simon (murid Isa).
Kedua, bahwa Isa ketika disalib itu tidak mati mungkin beliau koma, atau nampak sepeti wafat, tetapi sebenarnya beliau hidup dan ketika diturunkan dari salibpun beliau hidup.
B. Syirik
Syirik adalah menyamakan selain Allah dengan Allah pada perkara yang merupakan hak istimewa-Nya. Hak istimewa Allah seperti: Ibadah, mencipta, mengatur, memberi manfaat dan mudharat, membuat hukum dan syariat dan lain-lainnya.
Syirik adalah mensejajarkan selain Allah dengan Allah dalam hal–hal yang merupakan kekhususan bagi Allah. Kekhususan Allah meliputi tiga hal rububiyah, uluhiyah, dan asma’ dan sifat.
1. Asal Mula Tumbuhnya Kemusyrikan dan Keberhalaan
Amat sulit memberikan uraian tentang akar-akar keberhalaan, asal mula penyimpangan akidah ini, serta pertumbuhannya dikalangan manusia. Apalagi mengingat persoalan keberlaan ini bukan hanya terbatas pada satu atau dua bangsa, tidak pula dalam satu dua bentuk, ataupun satu atau dua daerah. Hal ini tentu membuat sulit pengajuan pendapat yang pasti tentangnya atau tentang pertumbuhannya.
Keberhalaan dikalangan bangsa arab jahiliah misalnya, berbeda dengan keberhalaan di kalangan bangsa india yang di anut oleh agama hindu. Kepercayaan-kepercayaandalam agama-agama dan bangsa-bangsa ini, yang berkaitan dengan kemusyrikan sangat berbeda sedemikian, sehingga sulit menggambarkan kadar yang dimiliki bersama oleh masing-masing dari mereka
2. Penyebab-penyebab Timbulnya Kemusyrikan
Di bawah ini penyebab-penyebab timbulnya kemusrikan :
A. Kepercayaan akan adanya lebih dari satu pencipta
Kaum penyembah berhala dan orang-orang lainnya seperti mereka, yang mempercayai adanya dua atau tiga tuhan (atau lebih), terpaksa oleh kepercayaannya itu untuk memuja (beribadah kepada) lebih dari satu tuhan. Dalam agama budha, tuhan yang azali dan memanifestasikan dirinya dalam tiga tuhan atau tiga bentuk dengan nama-nama sebagai berikut:
1. Brahma, tuhan pencipta
2. Wisnu, tuhan pemelihara
3. Shiwa, tuhan penghancur
Dalam agama Nasrani dikenal tiga nama:
1. Bapa
2. Putra
3. Roh kudus
Dalam agama Zoroaster, disamping Ahura Mazda, masih ada lagi dua tuhan, yaitu:
1. Yazdan
2. Ahrman
(meskipun perlu dicatat bahwa kepercayaan menganut Zoroaster tentang dua tahun yang disebut terakhir diliputi oleh kesamaran).
Bagaimanapun juga kepercayaan akan adanya lebih dari satu zat ilahi merupakan salah satu penyebab timbulnya penyembahan terhadap selain Allah serta “syirik dalam ibadah”.
B. Anggapan tentang jauhnya al-Khaliq dari Makhluk-nya
Penyebab kedua adanya ibadah kepada selain Allah ialah anggapan tentang jauhnya allah dari makhluknya, dalam arti bahwa allah tidak mendengar ucapan mereka, dan tidak sampai kepadanya segala doa dan permohonan mereka. Karena itu, mereka memilih berbagai wasilah (perantara) yang diperkirakan dapat mewakili dalam menyampaikan doa-doa mereka.
Al-Quran al-karim membatalkan pengertian-pengertian dan pemikiran-pemikiran seperti ini dengan berbagai penjelasan yang menyatakan bahwa allah lebih dekat daripada segala yang dekat, mendengar segala rahasia bisikan dan ucapan mereka dan bahwa pengetahuannya meliputi percakapan mereka, yang terucapkan ataupun tetap tersimpan dalam hati
C. Pelimpahan wewenang pentadbiran kepada tuhan-tuhan kecil
Dalam hati kecilnya, manuisa merasakan khudhu’ (ketundukan) tertentu kepada suatu kekuatan tertinggi, supaya menganggapdirinya kecil sekali dihadapan kekuatan seperti itu. Perasaan fitri seperti ini, meskipun tidak terungkap dengan lisan dan anggota tubuh lainnya, selalu bersamaan jauh dalam hati sanubarinya dalam bentuk perasaan khudu dari kepasrahan. Akan tetapi, mengingat bahwa mereka tidak mampu menyaksikan tuhan-tuhan yang mereka ciptakan dalam benak mereka, mereka pun memperkirakan baginya bentuk-bentuk khayali, lalu memahat patung-patung yang mereka buat itu sesuai bentuk-bentuk yang mereka visualisasikan. Kemudia mereka sembah patung-patung yang mereka buat itu sebagai ganti kekuatan-kekuatan ghaib yang di gambarkan oleh patung-patung tersebut.
Sampai disini telah kami jelaskan tiga penyebab penyekutuan allah dalam ibadah. Namun penyebab-penyebab yang dikecam oleh al-quran al-karim merupakan dasar tumbuhnya kemusrikan serta penyebarannya di seluruh dunia.

 

REFERENSI
• Filsafat Agama karya Harun Nasution
• Filsafat Ilmu karya Prof. Dr. Amsal Bakhatiar, M.A.
• Filsafat Pendidikan karya DRS. Prasety